Cagar Alam & Makam Junghuhn (Traveler Hindia Belanda yang Menemukan Kawah Putih & Perintis Kina)

Cagar Alam & Makam Junghuhn

Jika kamu bosan dengan suasana liburan yang mainstream, tak ada salahnya menjadikan tempat atau situs bersejarah sebagai salah satu alternatif tujuan. Tak hanya mendapat ilmu langsung dari penjaga situs atau masyarakat, mengunjungi tempat bersejarah terbilang cukup murah dan mudah untuk dilakukan. Jika kamu menyukai sejarah yang berhubungan degan era kolonialisme dan sedang berada di Lembang, maka kamu harus mengunjungi salah satu situs bersejarah bernama Cagar Alam Junghuhn yang berada di desa Jayagiri.

Cagar Alam Junghuhn ialah sebuah taman yang dibuat untuk mengenang jasa dari seorang naturalis berkebangsaan Belanda (sebelumnya Jerman). Pria yang bernama lengkap Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn ini lahir di Masfeld, Westfalen pada tanggal 26 Oktober 1809. Ia merupakan seorang doktor dan berprofesi sebagai botanikus, geolog, dan pengarang. Bila dihitung, sudah banyak karya yang ia torehkan dalam bidang botani dan geologi. Kecintaannya pula terhadap negeri Hindia Belanda yang sampai akhir hayatnya ia meninggal dan dimakamkan di Jayagiri, Lembang. Cagar Alam Junghuhn ini bukan hanya sebuah monumental untuk mengenang jasanya, namun ditempat ini pula raganya beristirahat dengan tenang dan damai di tanah yang ia cintai.

Traveler Hindia Belanda yang Menemukan Kawah Putih & Perintis Kina

Jika saat zaman kolonialisme dulu telah ada instagram atau twitter, pasti Junghuhn akan menjadi salah satu traveler dengan pengikut yang banyak. Bagaimana tidak, saat ia berada di Hindia Belanda, Junghuhn telah berhasil mengelilingi Pulau Jawa dan Sumatera sekaligus memetakan topografi gunung berapi di dua pulau tersebut. Pada proses pemetaan gunung berapi itu ia tidak searching di google dan copy paste penjelasan seperti saat ini, tapi ia terjun dan mendaki langsung gunung itu sekaligus menggambarnya. Tak tanggung-tanggung, gambar rekaan dari Junghuhn ini sangat otentik dan indah, kamu bisa melihatnya di koleksi milik Tropenmuseum Amsterdam. Dalam catatan sejarah yang ditulis oleh Her Suganda dalam bukunya yang berjudul “Wisata Parijs van Java” disebutkan bahwa Kawah Putih yang saat ini menjadi wisata alam nomor wahid di Bandung Selatan pertama kali ditemukan oleh Junghuhn.

Bagi sebagian orang yang mencintai dunia traveling, pasti Junghuhn adalah sosok panutan yang hebat. Namun bagi kalangan botanis, Junghuhn juga merupakan orang yang paling berjasa, salah satu dedikasinya dalam dunia botani adalah keuletannya dalam mengembangkan tanaman kina di Pulau Jawa. Saat itu kina sangat dibutuhkan untuk penyembuhan penyakit malaria yang pada masa itu merebak dan menjadi wabah. Kina yang pertama kali ditanam oleh Junghuhn dilakukan di daerah Pangalengan. Berkat jasanya tersebut Pulau Jawa berhasil menjadi penghasil kina terbesar di dunia dan memasuk lebih dari 90% kebutuhan kina dunia.

Perjalanan dan Akhir Kisah Junghuhn Sang Botanis

Banyak yang tak tahu bahwa Junghuhn pada awalnya memiliki kewarganegaraan Jerman, pada tahun 1848 Junghuhn kembali ke Eropa setelah berkelana di Hindia Belanda, saat itu ia bekerja dengan berbagai catatan, sampel dan gambar guna menyelesaikan magnus opusnya pada tahun 1852 yang berjudul: Java, Zijne Gedaante, Zijne Plantentooi en Inwendige Bouw, yang memiliki ketebalan berjumlah 2.600 halaman, yang terdiri dari tiga bagian dan empat volume. Setahun kemudian karya besar itu diterbitkan di Den Haag dan puncaknya pada tanggal 31 Agustus 1853 ia menerima kewarganeraan Belanda.

Catatan sejarah lain menyebutkan bahwa Junghuhn pernah menikah dengan seorang perempuan bernama Johanna Louisa Frederica Koch. Meskipun telah menikah dan memiliki rumah, tapi tetap saja hasrat tertingginya adalah kembali ke Jawa dan menetap disana sebagai botanis. Puncaknya pada tahun 1855 Junghuhn kembali ke Jawa dengan memboyong istrinya dalam misi sebagai pengawas dan penasihat dari penelitian ilmu pengetahuan alam. Hasil perkawinannya dengan Johanna ia dikaruniai seorang anak laki-laki yang dilahirkan di Lembang. Namun tak ada catatan yang jelas siapa nama anak laki-lakinya tersebut dan bagaimana nasibnya. Apakah ia kembali ke Belanda saat Indonesia merdeka atau tidak.

Kecintaannya terhadap tanah Jawa yang membuatnya ingin dimakamkan di Jayagiri Lembang, dekat dengan tempat tinggalnya yang memiliki tanah lapang. Semangat dan kegigihan Junghuhn dalam meneliti tanaman tropis dan mendaki gunung harus rela tergerus oleh penyakit yang disebabkan oleh amoeba disentry, karenanya pulalah ia sakit parah dan kemudian menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 24 April 1864 di ranjang tidurnya dengan menatap Gunung Tangkuban Perahu yang sangat dicintai untuk terakhir kalinya.

Berada tak jauh dari makam Junghuhn yang berupa sebuah tugu obelisk hadir pula sebuah makam tak bernisan. Dipercaya jasad yang terkubur pada makam tersebut adalah Dr. Johan Eliza de Vrij (1813-1898). Ia merupakan sahabat dekat dari Junghuhn yang berprofesi sebagai ahli kimia dan bertugas untuk menguji kadar alkoid yang terkandung dalam tanaman kina.

Fasilitas Cagar Alam & Makam Junghuhn

Saat ini komplek makam dari Junghuhn dan cagar alam yang ada disekitarnya telah menjadi objek wisata yang dikelola oleh pemerintah Kabupaten Bandung Barat. Meskipun telah menjadi suatu objek wisata cagar alam yang terbuka untuk umum, tapi fasilitas umum ditempat ini masih belum tersedia dan bahkan terkesan terbengkalai.

Harga Tiket Masuk Cagar Alam & Makam Junghuhn

Untuk dapat mengunjungi makam Junghuhn dan cagar alamnya, kamu tidak dikenakan tiket masuk alias gratis. Kamu cukup mengisi data pengunjung yang akan dimintai saat masuk pos penjagaan.

Keterangan : Perubahan harga tiket makam dan Cagar Alam Junghuhn ini dapat berubah sewaktu-waktu.

Lokasi/Alamat Cagar Alam & Makam Junghuhn

Secara administratif, makam dan Cagar Alam Junghuhn ini terletak di Jl. Jayagiri 2, Jayagiri, Lembang, Kabupaten Bandung Barat 40391.

Rute Menuju Cagar Alam & Makam Junghuhn

Tak sulit untuk menemukan lokasi dari makam dan Cagar Alam Junghuhn ini. Untuk bisa ketempat ini bisa diakses dengan menggunakan kendaraan roda dua atau pun roda empat. Berikut adalah petunjuk arah dari google maps yang bisa kamu gunakan sebagai navigasi :

Gimana tertarik untuk berwisata sejarah ke makam dan Cagar Alam Junghuhn ini?. Yuk jangan lupa untuk ajak teman atau keluarga kamu agar acara traveling yang kamu buat semakin terasa menyenangkan.

Happy wonderful traveling!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: