Makam Rudolph Eduard Kerkhoven & Kebun Teh Gambung (Menapaki Jejak Perjuangan, Konflik & Cinta Sang Juragan Teh)

Makam Rudolph Eduard Kerkhoven & Kebun Teh Gambung

Siapa yang tak pernah minum teh? Pasti semua orang di dunia ini pernah merasakan sepetnya rasa teh apabila tidak dicampur dengan gula. Teh memang sudah sejak abad ke-3 Masehi dikenalkan oleh dinasti Shang sebagai minuman obat yang berkhasiat. Dan di Indonesia sendiri teh telah masuk sejak zaman kolonilisme Belanda dulu. Salah satu perintis perkebunan teh yang ada di Indonesia adalah keluarga Kerkhoven. Keluarga besar ini dipercaya sebagai dinasti yang membuka lahan perkebunan teh di Priangan, atau yang lebih terkenal dengan sebutan Preanger Planters.

Preanger Planters ini diawali oleh pendahulu mereka yang lebih dahulu datang ke Hindia Belanda bernama Willem van der Hutch. Setelah berhasil disusul oleh keluarga lainnya seperti Bosscha, Holle dan kemudian Kerkhoven. Mereka semua berhasil menyulap lahan kering dan tak terurus menjadi perkebunan teh yang semua tersebar di Priangan, seperti Sinagar Sukabumi, Malabar Pangalengan, Waspada Garut, Panumbangan, Negla, Talun, dan tak ketinggalan Gambung milik Kerkhoven.

Sudah sejak lama Kerkhoven memimpikan untuk tinggal dan hidup di Priangan, dengan membuka perkebunan teh meskipun latar pendidikannya adalah teknik sipil. Bahkan sampai mati pun ia ingin dimakamkan “di sini”, Ia menginjakkan kakinya ditanah Gambung yang terdapat sebuah pohon rasamala.

Di komplek pemakaman Kerkhoven terdapat tiga buah makam, jasad yang terkubur disana ialah Jenny istrinya, Kerkhoven, dan satu lagi makam tak bernisan yang masih misterius hingga kini. Banyak versi cerita yang menyebutkan siapa makam yang berada paling atas dari kuburan Kerkhoven dan Jenny. Ada yang menyebutkan bahwa makam tersebut adalah anak mereka yang keguguran dan belum pernah merasakan dinginnya hawa Gambung. Versi lain menyebutkan bahwa makam itu adalah guru spiritual dari Kerkhoven, hal itu terlihat dari tatanan makam yang berada paling “tinggi” dan berarti dituakan atau dimuliakan. Namun ada versi lain yang menyebutkan bahwa makam tersebut adalah makam kuda kesayangan Kerkhoven yang berwarna hitam.

Menapaki Jejak Perjuangan, Konflik & Cinta Sang Juragan Teh

Memiliki latar belakang teknik, Kerkhoven memulai perjuangan yang berat untuk bisa menaklukan tanah Gambung. Sebelumnya ia harus merelakan hijrah dari negeri kincir angin, Belanda dan rela terombang-ambing di lautan selama 100 hari dalam pelayaran menuju Batavia. Ia pun harus merelakan pendidikannya untuk terjun ke dunia pertanian yang dimana sebagian teman-temannya memimpikan untuk bekerja sebagai seorang insinyur, tak sedikit pula yang mengejek bahwa cita-citanya hanyalah sebuah kesia-siaan semata. Namun, rasa cintanya terhadap tanah Priangan mengalahkan segalanya.

Perjuangan lain yang harus dilakukan adalah bagaimana ia harus belajar dari awal bagaimana mengembangkan perkebunan teh. Mulai dari membuka lahan yang semula lahan perkebunan kopi tak terurus, serta menaklukan hati masyarakat pribumi yang lebih dulu tinggal di Gambung. Semua itu berjalan tak mudah pada tahun-tahun pertama ia menginjakkan kaki di tanah Gambung.

Di tanah Hindia Belanda ini pula ia bertemu cintanya, menaklukan hati dari Jenny Roosergaarde Bisschop bukanlah sesuatu hal yang mudah, terlebih ia adalah cicit dari gubernur jenderal Hindia Belanda yang merupakan “pendiri” kota Bandung, Daendels. Dari sana Kerkhoven harus meyakinkan bahwa hidup bersamanya di perkebunan teh Gambung adalah pilihan terbaik dan terindah.

Dalam pernikahannya Kerkhoven dan Jenny dikaruniai 5 orang anak-anak yang lucu, mereka adalah Rudolf A. Kerkhoven, Eduard Silvester Kerkhoven, Emilius Hubertus Kerkhoven, Karel Felix Kerkhoven, dan terakhir adalah Bertha Elisabeth Kerkhoven. Namun kebahagiaan Kerkhoven dalam mengurus perkebunan Gambung, serta bahagianya ditemani oleh anak-anak yang lucu tersebut tetap saja tak mampu membendung keinginan Jenny yang sejak kecil merasakan glamornya kehidupan Batavia dan kota. Jenny pun didera penyakit saraf karena terus menginginkan untuk kembali tinggal bersosialita pada suasana kota, ia merasa kesepian ditengah keterasingannya di perkebunan teh Gambung. Hal itu yang menyebabkannya semakin depresi dan kemudian pada tahun 1907 ia memutuskan untuk meninggalkan semuanya, termasuk suaminya Kerkhoven dan kelima anaknya dengan cara menenggak racun.

Kisah mengenai kehidupan Kerkhoven ini memang menarik untuk diulik lebih jauh, hal itu pula yang melatar belakangi Hella Serafia Haasse, seorang sastrawati besar dari Belanda untuk menulis buku mengenai perjalanan hidup Kerkhoven yang ia teliti dari beberapa tulisan termasuk surat-surat yang berhubungan dengan Kerkhoven. Buku yang ia tulis mengenai Kerkhoven ini berjudul Heren van de Thee dan pertama kali terbit pada tahun 1992 dan kemudian dialih bahasakan dan diterbitkan kembali dengan judul “Sang Juragan Teh” pada tahun 2015.

Kisah Misteri di Makam Rudolph Eduard Kerkhoven & Kebun Teh Gambung

Dibalik menariknya kisah mengenai Kerkhoven ini, ternyata ada hal misteri yang menyelubungi makam Kerkhoven dan Perkebunan Teh Gambung. Hal ini dikisahkan pernah ada seseorang yang sengaja datang ke Gambung untuk urusan pekerjaan, pria tersebut menginap disalah satu rumah yang tak jauh dari makam dan Pabrik Teh Gambung berada. Ketika malam tiba, ia ditemui oleh sesosok wanita Belanda yang mukanya berlumuran darah, tapi wanita itu tak berbicara sepatah kata apa pun. Pada malam berikutnya ia kembali bertemu dengan sosok yang berbeda, namun kali ini ia bertemu dengan pria dengan perawakan dan berwajah Belanda lengkap dengan pakaian putih dan topi bundar khas administrator kebun teh. Sosok pria itu kemudian berucap. “Saya tak membunuhnya!”.

Karena rasa penasaran yang tinggi, pria ini kemudian mencari tahu siapa sosok yang ditemuinya pada malam sebelumnya. Kemudian ia mengetahui bahwa tak jauh dari tempat ia menginap ada makam orang Belanda yaitu Kerkhoven dan istrinya Jenny. Dari sana ia lantas pergi dengan diantar oleh orang yang bekerja dan sering menjadi pemandu apabila ada orang yang ingin mengunjungi makam Kerkhoven. Setelah melihat makamnya ia berpikir bahwa sosok yang ditemui pada malam sebelumnya adalah sosok Jenny dan Kerkhoven. Saat itu juga pria tersebut meminta kepada pemandu tersebut untuk menceritakan bagaimana kisah Kerkhoven dan Jenny meninggal.

Pria tersebut merasa kebingungan kenapa wanita yang ia temui wajahnya berlumuran darah, dan pria Belanda itu berkata. “Saya tak membunuhnya!”. Dari sana ia berpikir bahwa mungkin saja Jenny bukan mati karena meminum racun melainkan meninggal oleh Kerkhoven secara tak sengaja. Mungkin saja pada suatu malam terjadi percecokkan yang hebat antara Jenny dan Kerkhoven lantaran Jenny bersikukuh ingin pindah ke Batavia atau kota Bandung karena ia merasa bosan dan kesepian dengan suasana perkebunan teh yang hening. Dari percecokkan yang hebat itu Kerkhoven tak sengaja mendorong Jenny hingga jatuh dan kepalanya berlumuran darah. Kerkhoven merasa takut, lantas ia membuat cerita bahwa Jenny meninggal karena meminum racun.

Kisah misteri lainnya muncul ketika ada salah seorang datang untuk berkunjung ke makam, pria tersebut berkata kepada pemandu yang mengantarnya bahwa disekitar makam ia melihat sosok “Aul”, sosok Aul merupakan salah satu urban legend yang tersebar di masyarakat Sunda khususnya kawasan Ciwidey dan Pangalengan. Jika digambarkan sosok tersebut berwujud seperti manusia namun dengan kepala berbentuk anjing. Dipercaya sosok Aul ini sering mengunjungi makam dan perkebunan teh Gambung karena ia mengikuti kuda milik Kerkhoven berwarna hitam dan dipercaya dimakamkan tak jauh dari makam Kerkhoven.

Fasilitas Makam Rudolph Eduard Kerkhoven & Kebun Teh Gambung

Saat ini komplek makam dari Kerkhoven dan perkebunan teh Gambung telah menjadi objek wisata yang dikelola oleh pabrik teh Gambung dibawah naungan Pusat Penelitian Teh dan Kina milik pemerintah. Meskipun telah menjadi suatu objek wisata yang terbuka untuk umum, tapi fasilitas umum ditempat ini masih belum tersedia.

Harga Tiket Masuk Makam Rudolph Eduard Kerkhoven & Kebun Teh Gambung

Untuk dapat mengunjungi makam Kerkhoven, pabrik teh dan termasuk perkebunan tehnya, kamu bisa membayar tiket masuk dengan rincian harga sebagai berikut:

Tiket masuk domestik : Rp. 15.000/orang

Tiket masuk mancanegara : Rp. 50.000/orang

Keterangan : Perubahan harga tiket makam Kerkhoven ini dapat berubah sewaktu-waktu.

Lokasi/Alamat Makam Rudolph Eduard Kerkhoven & Kebun Teh Gambung

Secara administratif, makam Kerkhoven ini terletak di area Pusat Penelitian Teh dan Kina, Kampung Gambung RT. 01.RW. 09, Desa Mekarsari, Kec. Pasirjambu, Kab. Bandung, Jawa Barat 40972.

Rute Menuju Makam Rudolph Eduard Kerkhoven & Kebun Teh Gambung

Tak sulit untuk menemukan lokasi dari makam Kerkhoven ini. Untuk bisa ketempat ini bisa diakses dengan menggunakan kendaraan roda dua atau pun roda empat. Berikut adalah petunjuk arah dari google maps yang bisa kamu gunakan sebagai navigasi :

Gimana tertarik untuk mengunjungi wisata sejarah ke makam Kerkhoven sang juragan teh ini?. Yuk jangan lupa untuk ajak teman atau keluarga kamu agar acara traveling yang kamu buat semakin terasa menyenangkan.

Happy wonderful traveling!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: