Manajemen Pendidikan Berbasis Multi Budaya – Reformasi Sekolah : Memperkenalkan Perbedaan Ras, Budaya, dan Etnis (BAB III)

Artikel ini saya dedikasikan kepada mereka yang telah menerjemahkan, meresume dan mempresentasikannya dengan sangat baik. Terima kasih banyak kepada :

1. Arini Dewi Muchtaram
2. Citra Agung Prameswari
3. Erna Agustina
4. Firdan Akhmad Rosandy
5. Lide Friscila Natali
6. Rima Indriyani

HATI-HATI PERILAKU COPY PASTE YANG TIDAK SESUAI DENGAN KAIDAH KEILMUAN DAPAT MEMPENGARUHI NILAI DAN NAMA BAIK ANDA

Reformasi Sekolah : Memperkenalkan Perbedaan Ras, Budaya, dan Etnis (BAB III)

Keadaan Terkini Sekolah Negeri Di Amerika

Demografi negara Amerika Serikat ini telah berubah. Jumlah penduduk dengan latar belakang etnis telah meningkat secara drastis satu abad terkahir ini, dengan Hispanic sebagai kelompok etnis yang paling cepat berkembang (Extner 1986). Populasi Hispnic di Amerika Serikat menunjukan peningkatan hampir 30% dalam 7 tahun- angka pertumbuhan ini ada 10x lebih besar dari seluruh populasi.

Saat ini negara bagian Chicago memegang konsentrasi Hispanic terbesar ketiga di Amerika Serikat (dinyatakan oleh Komisi Pendidikan Amerika Serikat, 1987). Perubahan dalam sistem pendidikan sudah jelas diperlukan, dan analisis terhadap respon pemerintah untuk masalah demografis ini sangat penting.

Reformasi Dan Asumsi Pendidikan

Untuk mengatasi masalah di sekolah negeri di Amerika, pemerintah Amerika telah memulai serangkaian reformasi pendidikan. Reformasi gelombang pertama ini diusulkan dalam meningkatkan prestasi siswa,seperti meningkatkan standar kelulusan bagi siswa, memperpanjang waktu sekolah, menyelaraskan kurikulum dengan mandate negara, peningkatan gaji guru dan evaluasi guru.

Asumsi – asumsi mengapa diadakan reformasi sekolah ini adalah :

1. Asumsi sekolah tidak perlu berubah secara drastis bisa dilakukan secara bertahap yakni dengan pemenuhan standar yang lebih tinggi untuk perbaikan pendidikan baik dari kurikulum , sistem organisasi, sistem insentif guru dan hubungan kewenangan antara guru dan administrator atau siswa dan guru.

2. Asumsi yang menyatakan bahwa semua siswa sama.

3. Asumsi pergerakan reformasi menganggap bahwa semua sekolah itu didukung dengan struktur dan teknologi yang sama.

4. Asumsi bahwa sekolah memiliki sumber daya keuangan yang sama.

Kemudian, kita akan memprediksi reformasi sekolah ini berlaku untuk siswa kulit hitam, dan juga bagaimana mereka berkontribusi dalam stratifikasi, dan kurangnya mobilitas sosial berdasarkan ras, budaya, dan etnis dengan restrukturasi sekolah

Pemilihan Sekolah

Pemilihan sekolah yang tepat dikonsepkan untuk mengajak keterlibatan orang tua, peningkatan prestasi siswa dan mengembangkan sekolah yang inovatif yang dapat beradaptasi dengan mudah terhadap perubahan kebutuhan dan preferensi dari masyarakat yang. Dalam rangka penerapannya terhadap pendidikan, serangkaian alternatif diberikan terutama tentang pendanaan yang diusulkan oleh pemerintah dimaksudkan untuk memacu persaingan dan membuat sekolah sebagai fokus pilihan pendidikan dari orang tua, alternatif ini termasuk pembiayaan dalam kredit pajak kuliah,vouchers, dan transfer kuliah dan masalah segregasi

Sekolah Atlernatif

Perbedaan perlakuan siswa di sekolah antara siswa kulit putih dan kulit hitam semakin sulit untuk diatasi. Oleh karena itu, dibentuklah program pendidikan multikultural. Hal ini tidak hanya seperti kerjasama guru, kurikulum yang terintegrasi, dan hubungan dengan keluarga dan masyarakat, tetapi juga berpusat pada sejarah budaya siswa.

Implikasi

Sebagian besar usulan untuk restrukturisasi kurikulum didasarkan pada masyarakat kelas menengah, orang berkulit  putih yang menekankan individualisme dan persaingan sebagai esensi  untuk mencapai kesuksesan. Selain itu, sebagian besar budaya didasarkan dan didominasi pada siswa kulit putih. Dengan demikian, administrator perlu membuat dan mengembangkan kebijakan untuk mengatasi perbedaan warna kulit pada sektor pendidikan.

Komparasi Pendidikan Amerika dengan Indonesia

Indonesia adalah salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Kenyataan ini dapat dilihat dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Berkaitan dengan hal ini, pendidikan multikultural menawarkan satu alternatif melalui penerapan strategi dan konsep pendidikan yang berbasis pada pemanfaatan keragaman yang ada di masyarakat, khususnya yang ada pada siswa seperti keragaman etnis, budaya, bahasa, agama, status sosial, gender, kemampuan, umur, dll.

Di dalam pendidikan multikultural terletak tanggung jawab besar untuk pendidikan nasional. Tiga tantangan besar dalam melaksanakan pendidikan multikultural di Indonesia, yaitu:

1. Agama, suku bangsa dan tradisi

2. Kepercayaan

3. Toleransi

Adapun pentingnya pendidikan multikultural di Indonesia yaitu sebagai :

1. Sarana alternatif pemecahan konflik

2. Agar peserta didik tidak meinggalkan akar budaya

3. Sebagai landasan pengembangan kurikulum nasional

4. Menuju masyarakat Indonesia yang Multikultural

Dalam situs http://phierda.wordpress.com/2013/01/29/perbandingan pendidikan-multikultural-di berbagai-negara/ terdapat empat jenis dan fase perkembangan pendidikan multikultural di Amerika (Banks, 2004: 4), yaitu:

1. Pendidikan yang bersifat segregasi yang memberi hak berbeda antara kulit putih dan kulit berwarna terutama terhadap kualitas pendidikan

2. Pendidikan menurut konsep salad bowl, di mana masing-masing kelompok etnis berdiri sendiri, mereka hidup bersama-sama

3. Konsep melting pot, di dalam konsep ini masing-masing kelompok etnis dengan budayanya sendiri menyadari adanya perbedaan antara sesamanya. Namun dengan menyadari adanya perbedaan-perbedaan tersebut, mereka dapat membina hidup bersama.

4. Pendidikan multikultural melahirkan suatu pedagogik baru serta pandangan baru mengenai praksis pendidikan yang memberikan kesempatan serta penghargaan yang sama terhadap semua anak tanpa membedakan asal usul serta agamanya.

Implikasi bagi Pengelola Sistem Model Pendidikan

Pendidikan merupakan salah satu cara mengelola beragam perbedaan di suatu negara. Indonesia yang memiliki 13.466 pulau, beragam agama, 721 bahasa daerah, dan 300 kelompok etnis, menjadikan negeri ini tidak luput dari berbagai masalah pendidikan dikarenakan berbagai perbedaan tersebut.

Menuntut para pengelola pendidikan negeri ini untuk dapat melestarikan budaya sebagai kekayaan Indonesia. Administrator pendidikan dalam hal ini berperan penuh terhadap pengelolaan seluruh sistem manajemen sekolah. bagaimana ia dapat membentuk sebuah manajemen sekolah yang terstruktur yang memberikan perlakuan adil dan bijak bagi seluruh siswa dengan apapun latarbelakangnya. Manajemen tersebut perlu didukung oleh adanya kurikulum yang juga mengemas mengenai keberagaman budaya. sehingga kesetaraan perlakuan sekolah terhadap siswa harus dijauhkan dari diskriminasi sosial dan menegakan keadilan dalam pendidikan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: