e-Portofolio Kuliah

Manajemen Pendidikan Berbasis Multi Budaya – Kesetaraan Gender di Sekolah (BAB IV)

Artikel ini saya dedikasikan kepada mereka yang telah menerjemahkan, meresume dan mempresentasikannya dengan sangat baik. Terima kasih banyak kepada :

1. Ai Hawadis K.
2. Elstha Utami
3. Fitria Caesaria K.
4. Moh. Ajid Abdul Majid
5. Reffita Rahmat

HATI-HATI PERILAKU COPY PASTE YANG TIDAK SESUAI DENGAN KAIDAH KEILMUAN DAPAT MEMPENGARUHI NILAI DAN NAMA BAIK ANDA

Kesetaraan Gender di Sekolah (BAB IV)

Latar Belakang

Bab ini akan membahas cara-cara yang guru, administrator dan siswa perempuan jalani dalam sekolah, peran kecil yang dimainkan gender dalam gerakan reformasi dan cara gender yang telah membentuk pengembangan dan penerapan teori organisasi. Juga membahas bagaimana perempuan diperlakukan di sekolah.

Perlakuan Perempuan di Sekolah

Tujuan Pendidikan

Tujuan dari persekolahan menyimpulkan bahwa sekolah tersebut dikemas untuk melayani kepentingan umum dari hidup laki-laki, bukan kepentingan pribadi perempuan.

Siswa

Wanita dipandang memiliki jiwa rendah diri, prestasi yang lebih rendah, kemampuan fisik dan kepercayaan diri yang kurang serta karier yang lebih rendah aspirasinya (Sadker dan Sadker 1986).

Struktur Sekolah

Namun di dalam buku ini dimaksudkan bahwa keunggulan perempuan tidak diakui oleh pihak sekolah.

Teknik Instruksional

Teknik pengajaran juga mencerminkan pola kebutuhan laki-laki. Perempuan selalu diabaikan dalam kegiatan belajar mengajar.

Interaksi Guru / Siswa

Interaksi antara guru dan siswa menyiarkan pesan bahwa anak perempuan tidak sepenting anak laki-laki.

Materi Kurikulum

Para siswa perempuan kurang mendapatkan materi dan alat serta bahan pelajaran.

Remediasi

Mayoritas siswa di pendidikan khusus, remedial membaca serta program matematika adalah laki-laki. Sayangnya siswa perempuan tidak terlalu diperhatikan.

Keselamatan

Kehidupan sekolah bukanlah tempat yang aman untuk perempuan dan untuk seorang gadis karena mencakup berbagai jenis pelecehan. Para staf mengijinkan para anak laki-laki untuk memanggil anak perempuan dengan kata “bitches” dan “cunts“. Hinaan secara fisik dan seksual terhadap perempuan oleh siswa maupun staf laki-laki.

Pengajar dan Staf

Sekolah tidak selalu ramah terhadap pekerja perempuan.

Kemajuan Karir

Studi menunjukkan bahwa hambatan terbesar bagi perempuan dengan berpindah ke administrasi adalah diskriminasi seks.

Iklim Organisasi

Sosialisasi laki-laki telah memberikan kontribusi perilaku yang menciptakan iklim organisasi yang tidak bersahabat terhadap perempuan. Seperti adanya lelucon dan sindiran seksual terhadap perempuan.

Gender  Sebagai  Penjelas Variabel dalam Teori  dan Praktik Pengawasan

(Borisoff dan Merrill 1985).

Penelitian memberitahu kita bahwa jenis kelamin peserta yang diawasi mempengaruhi apa yang dikomunikasikan dan bagaimana mengkomunikasikan sesuatu hal. Penelitian ini telah menunjukkan hal berikut bagi perempuan:

Hubungan dengan orang lain lebih penting bagi semua tindakan perempuan daripada dengan laki-laki untuk seorang administrator.

Belajar mengajar yang lebih sering fokus utama bagi wanita daripada administrator laki-laki dalam pengawasan. Dan

Pembangunan masyarakat lebih sering merupakan bagian penting dari gaya administrator wanita daripada bagi laki-laki.

Seksualitas dan Perilaku / Kebiasaan Administrasi

Baik laki-laki maupun wanita merasa tidak nyaman dengan masalah seksual, ketidaknyamanan laki-laki dalam masalah seksual menjadi penghambat yang lebih kuat untuk perilaku administrasi yang efektif dibanding perempuan. Hal ini terjadi karena tiga alasan:

1. Administrator yang ada lebih banyak laki-laki.
2. Perempuan harus belajar untuk memahami dunia laki-laki untuk berhasil dalam masalah seksualitas dan, oleh karena itu, mereka cenderung lebih siap berurusan dengan masalah itu , dan
3. Perempuan dan laki-laki berbeda dalam sosialisasi seputar seksualitas, dan perempuan cenderung menjadi sesuatu yang merusak fungsi administrasif yang efektif dari pada sosialisasi laki-laki.

Jenis Kelamin dan Penentuan yang Tepat dan Etika Perilaku Administratif

(Garfinkel 1988, Shakeshaft 1989). Garfinkel menemukan bahwa baik laki-laki maupun perempuan memiliki penilaian kompetensi dan kepercayaan, tetapi mereka memberikan setiap prioritas yang berbeda. Untuk pengawas perempuan, kompetensi adalah hal pertama yang mereka cari dalam anggota tim, kepercayaan dianggap sebagai hal yang lebih rendah. Sementara untuk pengawas laki-laki kepercayaan dianggap sebagai kriteria nomor satu dalam kerjasama tim, terutama untuk anggota tim, di sini laki-laki dan perempuan mendefinisikan kepercayaan secara berbeda.

Implikasi

Topik ini menawarkan peran praktis dan peran yang berguna bagi studi tentang dunia perempuan dan interaksi jenis kelamin. Meningkatkan praktek dan mengembangkan teori adalah bukan tujuan yang kecil, dan pasti ada ruang untuk keduanya dalam penelitian baik dalam pengajaran maupun dalam administrasi pendidikan itu sendiri. Dengan ini juga membuktikan bahwa reorganisasi pengetahuan dasar dapat berkembang menjadi ilmu yang berbeda dan dapat mempromosikan pengetahuan dasar tersebut dengan memasukkan pengalaman dari perempuan.

Wajah Kesetaraan Gender di Indonesia

1. Harapan Perempuan dari Kesetaraan Gender
2. Masalah / Kendala Yang Muncul
3. Pandangan Budaya di Indonesia Tentang Perempuan
4. Pandangan Agama Islam Tentang Kedudukan Perempuan atas Laki-laki

Kesetaraan Gender Bidang Pendidikan di Indonesia

Berdasarkan hasil penelitian Rosalie Pitt (2011) yang dilakukan di Malang, Jawa Timur tentang pengarusutamaan gender di sekolah dasar negeri dan sekolah dasar agama, didapatkan hasil yang mencengangkan bahwa kesetaraan gender pada bidang pendidikan di Indoensia belum terrealisasikan dengan baik. Hal ini dilihat dari beberapa aspek yang sangat dekat dengan diri kita, salah satunya ada dalam lagu-lagu bernuansa mendidik anak yang populer baik di sekolah maupun di tengah-tengah keluarga yang memiliki bias gender.

Adapun pelaksanaan Pembangunan Nasional khususnya di bidang Pendidikan selama ini juga masih terdapat kesenjangan partisipasi antara perempuan dan laki-laki. Menurut Menneg Pemberdayaan Perempuan dalam Dyah (2012:3) mengatakan bahwa sampai dengan tahun 2009, rata-rata lama sekolah perempuan sekitar 6,5 tahun dan laki-laki 7,6 tahun. Hingga tahun 2010 perempuan buta aksara usia 15 tahun keatas mencapai 13,84%  sedangkan laki-laki 6,52%.

Kenyataan lain, masih terdapat ketidakadilan partisipasi antara perempuan dan laki-laki dalam susunan pengurus MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah) SMP Se-Kabupaten Purworejo. Dimana semua jabatan dipegang oleh kaum laki-laki. Hal ini dikarenakan jumlah Kepala Sekolah SMP di Kabupaten Purworejo didominasi oleh kaum laki-laki, yaitu 103 laki-laki dan 11 perempuan.

Kesenjangan partisipasi ini merupakan salah satu contoh perilaku yang bias gender dalam pengambilan keputusan pengelolaan sekolah. Peluang bagi kaum perempuan untuk ikut serta dalam pengambilan keputusan pun menjadi terhambat.

Implikasi Bagi Pengelola Sistem Model Pendidikan

Dua Pola Penerapan Model Implementasi Kurikulum Berbasis Kesetaraan Gender

1. Mengembangkan desain kurikulum (silabus dan RPP) dengan berwawasan kesetaraan gender.
2. Menggunakan berbagai model pembelajaran berbasis kesetaraan gender dalam implementasi kurikulum yang sedang berjalan. Di sini, yang perlu ditekankan adalah memberi kesempatan yang sama semua peserta didik dalam memperoleh pengalaman belajar di sekolah sehari-hari.

Adapun Ciri-Ciri Implementasi Kurikulum Berbasis Kesetaraan Gender 

1. Semua peserta didik memperoleh kesempatan yang sama dalam memperoleh pengalaman belajar sebagaimana yang tertera dalam kurikulum yang berlaku.
2. Materi pembelajarannya dikembangkan dari berbagai sumber dan tidak bisa gender.
3. Menekankan pada partisipasi yang sama semua peserta didik dalam proses transmisi dan transformasi pengalaman belajar di sekolah.

Urgensi Pendidikan Multikultural di Indonesia

Mahfud (2011:215) mengemukakan urgensi pendidikan multikultural di Indonesia adalah sebagai berikut:

1. Sebagai sarana alternatif pemecahan konflik.
2. Sebagai landasan pengembangan kurikulum nasional.
3. Menuju masyarakat Indonesia yang multikultural.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s