Manajemen Pendidikan Berbasis Multi Budaya – Administrasi Pendidikan pada Masyarakat Pluralistik : Pendekatan Multiparadigma (BAB I)

Artikel ini saya dedikasikan kepada mereka yang telah menerjemahkan, meresume dan mempresentasikannya dengan sangat baik. Terima kasih banyak kepada :

1. Diki Donianto
2. Fauziah Azam
3. Fitri Yanti
4. Nursyifa Fauziah
5. Ratu Tiara
6. Riska Dwi Gusriyani

HATI-HATI PERILAKU COPY PASTE YANG TIDAK SESUAI DENGAN KAIDAH KEILMUAN DAPAT MEMPENGARUHI NILAI DAN NAMA BAIK ANDA

Administrasi Pendidikan pada Masyarakat Pluralistik : Pendekatan Multiparadigma (BAB I)

Latar Belakang

Bab ini menjelaskan bagaimana pandangan pendidikan dalam suatu multiparadigma dapat membantu administrator dalam mengenali kontradiksi serta kemungkinan praktik pendidikan untuk semua orang, termasuk mereka yang mengalami penindasan. Kerangka kerja yang disajikan tidak menyarankan “grand teori” juga tidak memposisikan diri sebagai satu-satunya cara untuk pendekatan pluralisme budaya, tetapi menawarkan konseptualisasi administrasi, keragaman, dan kekuasaan sebagai perangkat penelitian untuk mempertimbangkan tekanan dalam organisasi, khususnya sekolah-sekolah.

Administrasi dan Paradigma

Bab ini memberikan perhatian terbesar terhadap paradigma kritis dan pascastrukturalis feminis. Struktural paradigma fungsionalis dan interpretivist telah menerima cukup banyak perhatian dalam literatur dalam administrasi pendidikan. Pendekatan teori kritis untuk administrasi pendidikan telah menerima lebih banyak perhatian, terutama dari perspektif bahwa itu adalah penangkal permasalahant dari dua paradigma lain. Dalam bab ini,  menjelaskan prinsip utama teori kritis serta keterbatasan. Kemudian memberikan perhatian yang besar kepada feminis pascastrukturalisme – suatu pendekatan yang baru mulai menemukan jalan ke pendidikan.

5 Batasan Dari Teori Kritis

1. Menurut Liston 1988 berpendapat bahwa teori kritis bergantung pada rasionalitas dan strukturnya
2. Teori kritis melegitimasi dan menganalisis kelas atas gender dan penindasan, menekankan kesucian dari jenis kelamin, ras dan kelas. (Sirotnik dan Oakes)
3. Menurut Lakomski (1987) memusatkan perhatian pada konsep dan kompetensi komunikatif yang ideal.
4. Teori kritis menyederhanakan kekuasaan dan pengambilan keputusan. menganalisis literatur pedagogi yang penting dan membawa masalah dengan berbagai konsep, termasuk dialog. Ellsworth (1989)
5. Teori kritis merupakan pendekatan musyawarah untuk mengatasi konflik dan pengambilan keputusan.

Teori “Feminist Poststructuralist”

Menurut Weedon (1987 ) Secara singkat, teori pascastrukturalis feminis mengacu pada interaksi dan kontradiksi antara subjektivitas, kekuasaan, bahasa, dan asumsi yang tidak diragukan lagi yakni akal sehat yang digunakan untuk menguji bagaimana kekuasaan dilaksanakan dan potensi untuk perubahan.

Sumbangan dari Teori “Feminist Poststructualist”

Foucault adalah tokoh yang terkenal dalam feminisme, namun Foucault tidak pernah membahas tentang perempuan. Hal yang diadopsi oleh feminisme dari Foucault adalah bahwa ia menjadikan ilmu pengetahuan “dominasi” yang menjadi milik kelompok-kelompok tertentu dan kemudian “dipaksakan” untuk diterima oleh kelompok-kelompok lain, menjadi ilmu pengetahuan yang ditaklukan. Dan hal tersebut mendukung bagi perkembangan feminisme.

Berbeda dengan pertanyaan kritis, poststrukturalis tidak memposisikan seseorang menuju pencapaian  rasionalitas, tapi melihat seseorang sebagai bagian dari pengamat – komunitas yang membangun interpretasi dunia.

Sumbangan dari Teori “Feminist Poststructualist”

Foucault adalah tokoh yang terkenal dalam feminisme, namun Foucault tidak pernah membahas tentang perempuan. Hal yang diadopsi oleh feminisme dari Foucault adalah bahwa ia menjadikan ilmu pengetahuan “dominasi” yang menjadi milik kelompok-kelompok tertentu dan kemudian “dipaksakan” untuk diterima oleh kelompok-kelompok lain, menjadi ilmu pengetahuan yang ditaklukan. Dan hal tersebut mendukung bagi perkembangan feminisme.

Berbeda dengan pertanyaan kritis, poststrukturalis tidak memposisikan seseorang menuju pencapaian  rasionalitas, tapi melihat seseorang sebagai bagian dari pengamat – komunitas yang membangun interpretasi dunia.

Secara singkat, teori pascastrukturalis feminis mengacu pada interaksi dan kontradiksi antara subjektivitas, kekuasaan, bahasa, dan asumsi yang tidak diragukan lagi yakni akal sehat yang digunakan untuk menguji “bagaimana kekuasaan dilaksanakan” dan potensi untuk perubahan. Dari perspektif ini, hubungan kekuasaan yang dilihat melalui subjektivitas dalam hal identitas, pengalaman, proses, akses, dan seleksi, kekuasaan itu sendiri, dalam hal konflik dan disensus, mode rahasia dominasi, dan resistensi terhadap kekuasaan, dan bahasa dan kewenangannya, sejarah, dan ketersediaan. Interaksi antara subjektivitas, kekuasaan, dan bahasa berkontribusi untuk “akal sehat” asumsi tentang menghambat dan memungkinkan aspek kehidupan sosial

Subjektivitas

Weedon mengungkapkan pentingnya identitas diri pada organisasi, meliputi individu yang ada didalamnya:

a. Individu tidak pernah dalam keadaan tidak bersalah ketika dihadapkan dengan pilihan posisi subjek yang saling bertentangan.
b. Subjektivitas pada teori ini menekankan pada pemahaman karakteristik khas yang dimiliki suatu wilayah untuk menunjukan identitasnya.
c. Kewajiban untuk mematuhi standar kompetensi komunikatif, dimana dibuatkannya pembaharuan sekolah yang memfasilitasi terhadap siswa berkebutuhan khusus.

Kegunaan dari Pendekatan Multiparadigma

Menggunakan perspektif multiparadigma sebagai salah satu cara untuk menggunakan administrasi pendidikan dalam masyarakat majemuk- suatu pendekatan yang menggabungkan fungsionalisme struktural, interpretivisme, teori kritis, dan feminis pascastrukturalisme. Hal tersebut karena keterbatasan yang dimiliki oleh paradigma tersebut.

Pendekatan Multi Paradigma dalam Ruang Lingkup Manajemen Pendidikan

Positivisme

Aliran ini sebagai pusat ilmu pengetahuan dilihat dari segi pendidikan atau manajemen pendidikan. berpangkal pada fakta positif sesautu diluar fakta, dalam ruang lingkup manajemen terletak pada unsur control atau pengawasan.

Interpretivisme

Paradigma interpretivisme menekankan cara pandang, pemahaman dan makna. Dalam manajemen pendidikan interpretivisme berada pada bagaimana pendidikan diolah dan dimanaj sedemikian rupa agar mencapai tujuannya.

Teori kritis

Terkait dengan manajemen pendidikan teori kritis ini menekankan pada rencana-rencana yang akan muncul dalam benak manajer. Pada teori ini tidak cukup untuk menafsirkan namun harus terdapat unsur-unsur pembebasan dan perubahan.

Post Modernisasi

Menekankan pada perubahan zaman sehingga diperlukannya konsep dasar baru dari konsep-konsep lama yang telah digunakan, melalui peran perubahan dalam menghadapi kebutuhan dan keinginan yang semakin beragam akan dunia pendidikan.

Prophetifisme

Fenomena yang bermunculan saat ini yakni terjadi kefanatikan terhadap bidang pendidikan masing-masing, dimana pada kondisinya konsep pendidikan integrative antara ilmu umum dan agama seharusnya dapat saling melengkapi satu sama lain

Implikasi Administrasi Pendidikan dalam Masyarakat Majemuk

Implikasi Pentingnya pendidikan Multikultural di Indonesia

1. Sebagai sarana alternatif pemecahan konflik
2. Agar dapat mempertahankan budaya bangsa Indonesia
3. Sebagai landasan pengembangan kurikulum

Implikasi penerapan pendidikan multikultural di Indonesia

Implementasi  pendidikan  multikultur  pada  jenjang  pendidikan  dasar  dan  menengah, dapat dilakukan secara komprehensif melalui pendidikan Kewarganegaraan dan melalui Pendidikan Agama,  dapat  dilakukan  melalui  pemberdayaan  slot-slot  kurikulum  atau  penambahan  atau perluasan  kompetensi  hasil  belajar  dalam  konteks  pembinaan  akhlak  dan budi pekerti,  memiliki intensitas  untuk  membina  dan  mengembangkan  kerukunan  hidup  antar  umat  beragama, dengan  memberi  penekanan  pada  berbagai  kompetensi  dasar  sebagaimana  telah  terpapar  di atas.

Implementasi pendidikan multikultural dalam proses pembelajaran

Untuk kelas yang beragam latar belakang budaya siswanya, agaknya, lebih cocok dengan gaya kepemimpinan guru yang demokratis (Donna Styles, 2004: 3). Melalui pendekatan demokratis ini, para guru dapat menggunakan beragam strategi pembelajaran, seperti dialog, simulasi, bermain peran, observasi, dan penanganan kasus.

Dengan strategi pembelajaran tersebut para siswa diasumsikan akan memiliki wawasan dan pemahaman yang mendalam tentang adanya keragaman dalam kehidupan sosial.

Dengan demikian, proses pembelajaran yang difasilitasi guru tidak sekadar berorientasi pada ranah kognitif, melainkan pada ranah afektif dan psikomotorik sekaligus.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: